Merawat Ingatan, Melahirkan Gerakan: LSF Resmikan Tiga Simpul Kekuatan Baru di Banten

Ciputat, Tangerang Selatan Dalam merefleksikan kembali makna Hari Pergerakan Perempuan, Lingkar Studi Feminis (LSF) menggelar diskusi publik bertajuk “Merawat Ingatan, Membangun Kekuatan, Bersama Bangun Politik Perempuan Muda Banten”. Acara ini menghadirkan tiga narasumber kunci dari latar belakang generasi dan gerakan yang berbeda: Ratna Batara Munti (Wakil Ketua Komnas Perempuan), Kurniawan Sabar (Direktur INDIES), dan Eva Nurcahyani (Koordinator Lingkar Studi Feminis). Diskusi ini mengupas tuntas mengapa “merawat ingatan” menjadi fondasi krusial untuk membangun gerakan perempuan yang solid dan berdaya tawar politik di masa kini, khususnya di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ratna Batara Munti, seorang aktivis senior dan komisioner Komnas Perempuan, membuka diskusi dengan ajakan untuk melawan amnesia sejarah yang direkayasa oleh Orde Baru. Ia mengingatkan bahwa peringatan akan makna 22 Desember telah digeser menjadi sekedar “Hari Ibu” yang merayakan peran domestik, padahal sebenarnya hari Kongres Perempuan pertama yang menjadi simbol pergerakan perempuan, di mana perempuan pada 1928 telah menuntut hak-hak sipil dan melawan ketidakadilan struktural.

“Sejarah gerakan perempuan sengaja dibungkam dan didomestikasi. Gerakan kritis seperti Gerwani disingkirkan, sementara yang dipromosikan adalah citra perempuan patuh melalui PKK dan Dharma Wanita,” tegas Ratna. Ia menekankan bahwa tanpa memahami sejarah ini, gerakan perempuan akan kehilangan akar politisnya dan terjebak pada kerja-kerja layanan semata tanpa menyentuh akar masalah ketimpangan kuasa.

Perspektif struktural kemudian diperdalam oleh Kurniawan Sabar (Direktur INDIES). Ia menghubungkan penindasan terhadap perempuan secara langsung dengan sistem ekonomi-politik yang lebih besar. Menurutnya, perjuangan perempuan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan melawan monopoli atas alat produksi (tanah dan kapital).

“Selama mayoritas rakyat, di mana mayoritas perempuan adalah kaum tani masih terhisap oleh sistem ekonomi yang tidak adil, perempuan akan selalu menanggung beban berlapis (multiple burden),” ujar Kurniawan.

Ia melemparkan pertanyaan strategis kepada para aktivis muda: “Kita ingin menang atau hanya ingin tumbuh?” Baginya, “kemenangan” hanya bisa dicapai jika gerakan-gerakan perempuan yang bersifat lokal dan sporadis mampu berkonsolidasi menjadi sebuah gerakan nasional yang berakar pada kekuatan rakyat.

Menjawab tantangan tersebut, Eva Nurcahyani dari Lingkar Studi Feminis membagikan strategi gerakan perempuan muda di Banten. Ia menjelaskan bahwa model gerakan yang menyebar (rhizomatic) dan tanpa hierarki kaku adalah sebuah pilihan sadar yang belajar dari sejarah.

“Kami membangun kolektif-kolektif dengan nama berbeda di berbagai wilayah Banten seperti Puan Tara, Lintara, dan Lingkar Puan Pandeglang, sebagai strategi agar tidak mudah dihancurkan oleh rezim, belajar dari bagaimana gerakan di masa lalu, seperti Gerwani yang sempat diberangus oleh rezim Orde Baru,” jelas Eva. Strategi ini adalah cara untuk membangun kekuatan dari bawah secara solid sebelum melangkah ke konsolidasi yang lebih besar.

Diskusi ini secara sadar adalah upaya untuk menjembatani pemikiran antar generasi aktivis dan menegaskan satu benang merah: bahwa gerakan perempuan muda saat ini harus berakar pada pemahaman sejarah yang kritis, memiliki analisis struktural yang tajam, dan menerapkan strategi pengorganisasian yang taktis untuk mencapai tujuan pembebasan sejati.

Setelah diskusi usai, LSF secara resmi meluncurkan tiga simpul kekuatan baru di Banten: Puantara (Tangerang Raya), Lintara (Serang Raya), dan Lingkar Puan Pandeglang. Peluncuran ini disertakan dengan membacakan manifesto gerakan, orasi dan  puisi dari perwakilan ketiga kolektif. Ketiganya secara lantang menyerukan pesan yang sama, yaitu panggilan agar gerakan kolektif perempuan kembali hadir, serta urgensi untuk membangun konsolidasi dan jejaring yang lebih kuat di antara perempuan muda Banten

Kontributor: Irhamna (Puan Tangerang Raya)

Anis Fazirotul
Anis Fazirotul
Articles: 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *